Singkawang Jade of Equator
<< back

Merahnya Lampion dari Singkawang

Dengan mimik agak bergidik, para pengunjung menatap satu demi satu deretan foto yang terpampang di dalam galeri Salihara. Seorang lelaki dengan mulut tertancap jarum panjang, disusul gambar lainnya yang tak kalah menyeramkan. Tapi di balik kesadisan yang terekam lewat gambar tersebut, terlihat pula kekayaan budaya masyarakat Tionghoa di Kabupaten Singkawang, Kalimantan Barat. Merahnya lampion berpadu dengan keindahan arsitektur klenteng terpampang jelas di situ.


Keindahan yang tertangkap mata kamera delapan fotografer papan atas Indonesia itu—Jay  Subiakto, Yori Antar, Enrico Soekarno, Sigi Wimala, John Suryaatmadja, Sjaiful Boen, Asfarinal st. Rumah gadang, dan Oscar Matulloh—memang pemandangan yang menakjubkan. Bersama-sama, mereka menggelar pameran bertajuk “Singkawang Jade of Equator” di Galeri Salihara pada 24-31 Januari 2010.



Sejak  beberapa abad silam, momen Imlek di Singkawang selalu ramai dirayakan oleh etnis China. Sejarah Kota China di Singkawang diduga dimulai dari terdamparnya sebuah kapal dagang dari Dinasti Sung. Namun, ada pula yang mencatat bahwa Kota China Singkawang itu bermula dari kekalahan telak Kubilai Khan oleh pasukan gagah berani Kertanegara. Mereka yang hidup eksodus kemudian menuju pulau yang bernama asli San Keuw Jong itu.



Sayangnya, pada masa Orde Baru perayaan Imlek dengan segala atribut yang berbau Tionghoa dilarang oleh pemerintahan yang berkuasa. Menyusul gerakan reformasi, Presiden Indonesia ke-4, Adurrahman Wahid, mencabut semua larangan ini. Dan Singkawang kembali menjadi hidup dengan perayaan-perayaan Tionghoa dan ragam budayanya.  Melihat Singkawang dari dekat saat perayaan malam kelima belas alias Cap Go Meh, kita bagai berada di Tiongkok abad pertengahan yang kerap menjadi background film-film Zhang Zimou atau John Woo.


<< back


Banner