
Pameran Foto Galeri Antara
10 CHINATOWNS of Southeast Asia
PEMBUKAAN PAMERAN
Jumat, 5 Februari 2010, pukul 19.00 WIB
Galeri Foto Jurnalistik Antara
Jl. Antara No. 59, Pasar Baru
Jakarta Pusat
Dibuka oleh: Yenny Wahid (Wahid Institute)
Pembawa Acara: Olga Lidya
Dimeriahkan dengan penampilan khusus Kie Lin (PGB Bangau Putih, Bogor)
Chinatown alias pecinan, adalah salah satu suaka budaya bangsa perantau keturunan China di suatu pekarangan ibukota negeri-negeri di bumi. Dia menjadi suatu “cagar budaya leluhur” yang sekaligus penanda bagi pusat pengendalian bisnis di suatu negeri. Sebentuk simbol peradaban kota yang adaptif dan berisi elemen tradisi, etos kerja dan persaudaraan yang kental.
Tak sedikit yang tertulis dalam kenyataan sejarah yang buram dan berdarah-darah. Entah itu berupa pembumihangusan atau kebiadaban kemanusiaan, seperti yang terjadi di kawasan Glodok, Pecinan Jakarta, medio Mei 1998. Pameran foto karya Zhuang Wubin, “10 CHINATOWNS of Southeast Asia” mencoba mengetengahkan secara visual bagaimana kehidupan dalam keseharian warga pecinan di kawasan Asia Tenggara yang populasi warganya tercatat meliputi 80 persen dari seluruh penduduk yang dikenal sebagai China perantauan di seluruh planet bumi. Melalui kamera Wubin, kita seolah mengikuti perjalanannya mencari perihal dari akar dalam darahnya sebagai seorang Singapura keturunan China.
Wubin sendirian berkelana menjelajahi 10 pecinan di sepuluh ibukota negara-negara Asia Tenggara. Ke kawasan yang disebut warga setempat sebagai Chinatown (Bandar Seri Begawan, Phnom Penh, Vientiane), Yaowarat (Bangkok), Cholon (Ho Chi Minh City), Petaling Street (Kuala Lumpur), Binondo (Manila), Kreta Ayer (Singapura), Tayote Tan (Yangon) dan Glodok (Jakarta).
Dia tak hanya menyajikan pada kita petualangan matanya, namun juga laporan-laporannya yang diterbitkan dalam buku CHINATOWNS In a Globalizing Southeast Asia (Chinese Heritage Centre, Singapura, Januari 2009). Meskipun fotografi yang ditawarkan Wubin sesungguhnya menjadi lebih semacam ilustrasi dalam bukunya, namun dalam pameran fotografi ini, komposisi yang di abadikan Wubin dirancang kembali sebagai suatu kesatuan yang mengemukakan warga pecinan Asia Tenggara sebagai unit besar. Sebentuk penekanan pada fungsi fotografi sebagai gerbang ke dalam pecinan Asia Tenggara dan komunitasnya.