
The Sacred Blue and White
Meski kini China dipandang sebagai gudang barang tiruan murah meriah, tapi kejayaan orisinalitasnya masih tercermin lewat porselen antiknya. Menilik sejarahnya, porselen China memang bukan produk karbitan. Eksistensinya erat berkaitan dengan iklim politik China kala itu. Inilah yang membuat porselen-porselen itu seperti semacam “black box” yang merekam sejarah peradaban bangsa China. Dan bicara tentang porselen China tentu tak lengkap bila tak menyinggung porselen biru-putih. Inilah porselen yang—menurut penulis Duncan Macintosh—menjadi kiblat produksi keramik China sejak awal abad ke-15.
Batik: Balada Silang Budaya dalam Sepotong Kain
Batik bukan sekadar ekspresi seni yang kemudian dinobatkan sebagai sebuah warisan tradisi. Sering dilupakan, ia juga mencatat proses peleburan kebudayaan Tionghoa dan Bumiputra di Pulau Jawa. Meski asal-muasalnya hingga kini masih agak sulit ditelusuri, Batik memang menemukan bentuknya yang paling memikat di Pulau Jawa dan Madura. Kini, ribuan tahun setelah penciptaannya, Batik pun resmi menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Kendati sempat diwarnai sedikit sengketa dengan negara tetangga. Batik ialah sebuah catatan budaya yang tak tenggelam di tengah penindasan, dan kebanggaan yang lestari di zaman kemerdekaan.

Kebaya van China
Terinspirasi dari Arab, dipakai oleh wanita Indonesia hingga sebagian Kamboja, dan dipengaruhi peranakan China, Kebaya adalah salah satu “warisan regional” yang multikulturalis. Di Malaysia, puncak-puncak kejayaannya tercermin dalam corak dan warna Nyonya Kebaya. Di Malaysia, Nyonya Kebaya adalah nama yang legendaris. Namanya, Nyonya Kebaya—atau sering juga Kebaya Nyonya—adalah bentuk apresiasi sekaligus identifikasi terhadap pemrakarsanya: kaum wanita yang menikahi pendatang China di Selat Malaka.

Adaptasi dalam Interior dan Arsitektur
Percampuran budaya dalam budaya peranakan selalu melibatkan pengaruh Tionghoa. Anhar Setjadibrata, pemilik jaringan Tugu Hotels Group, mengatakan asal budaya peranakan dipicu oleh pernikahan kaum pendatang pria Tionghoa dengan wanita pribumi Indonesia. Dalam hal rumah tinggal, kaum peranakan Tionghoa berada zaman dulu punya satu tendensi: memamerkan kekayaan. Ini tercermin baik dari segi interior maupun eksterior rumahnya.

Grafis: Simbolisme dan Eklektisisme Visual
Desain grafis belum eksis ketika budaya peranakan telah muncul di Indonesia. Hermawan Tanzil mengatakan bukan soal mudah meneliti sejauh mana perkembangan desain grafis dalam konteks desain peranakan. Tapi jika menilik seperti apa desain grafis yang termasuk dalam peta desain peranakan, Creative Director Leboye yang juga pemerhati desain kultural itu menuturkan, desain peranakan banyak dipengaruhi proses diversifikasi seni. Seperti tercermin dalam busana kebaya, batik, porselen, perhiasan, interior dan arsitektur.

Ngobrol
Lain Ladang Lain Belalang—Mengintip Kehidupan Art Director Lintas Industri
Kendati bertitel sama, seorang Art Director tak selamanya menghadapi tantangan yang serupa. Ada kesamaan, tak sedikit pula perbedaan. Deskripsi pekerjaan dan suka-dukanya banyak dipengaruhi jenis industri yang dilakoni.

Buah Karya
A-Z Archipelago—Refleksi Keragaman Nusantara
Keragaman budaya Indonesia memang menarik dan pantas mengundang decak kagum dari siapa saja. Bagi seorang Hermawan Tanzil, keragaman kebudayaan Indonesia ini menjadi inspirasi untuk merampungkan proyek typeface A-Z of Archipelago.

Profil
Han Awal: Arsitek Penyelamat Jejak Masa Silam
Dalam perjalanan kariernya sebagai seorang arsitek, Han Awal turut mengharumkan nama Indonesia dengan meraih International Award of Excellence dari Unesco Asia Pacific untuk rancang bangunan konservasi gedung Museum Arsip Nasional.

Semesta Pariwara
Citra Pariwara 2009: To Kill the Old Tricks
Citra Pariwara 2009 kembali digelar dengan upaya besar untuk mendorong iklan-iklan Indonesia mampu bertarung di sejumlah ajang kreatif internasional. Semangat untuk terus menjadi lebih baik nampaknya menjadi dasar untuk melahirkan tema Citra Pariwara 2009: It's Time to Kill the Old Tricks. Inilah suatu semangat yang ingin menjelaskan era kreativitas baru telah datang. Sekaligus mengucapkan selamat tinggal pada cara-cara kreatif lama yang tak lagi relevan dengan zaman yang berubah sangat cepat.

Lava: Kedinamisan dalam Desain
Tanpa terasa Lava sebentar lagi genap berusia dua puluh tahun. Untuk ukuran perusahaan, usia sepanjang itu tentunya berarti kemapanan, dan sederet klien-klien besar papan atas. Tapi seolah berusaha membumi, studio kreatif asal Belanda ini justru mengakui klien mereka berasal dari kelas kecil hingga menengah.

Non-Format: Kekuatan Hitam-Putih dan Ekspresi Tipografi
Unsur ketegasan dalam paduan warna hitam dan putih kerap ditafsirkan sebagai nuansa yang monoton. Juga terkesan miskin alternatif. Begitu pula halnya dengan deretan huruf A-Z. Namun demikian, bagi Jon dan Kjell dari Non-Format, tipografi adalah sesuatu yang luar biasa sebagai ekspresi kreatif. Sementara hitam dan putih diterjemahkan sebagai anasir yang punya unsur kekuatan dan kedekatan.

Fullfill: Ketika Baik tak Selalu Benar
Persoalan antara baik dan benar ternyata tak hanya jadi domain para pahlawan super. Apa yang baik tak selamanya benar, karena sia-sia saja baik jika ternyata salah. Inilah yang menjadi dasar keyakinan trio Ardian Wirawan, Raymond Noviar Witanto dan Tedy Aang. Prioritas kebenaran di atas kebaikan menjadi pijakan mereka menjalankan PT Fullfill Artplikasi. Mereka menyarankan menjauhi sikat menghakimi, yang jelas mengaburkan obyektifitas dalam berkarya.

Trik: Portraiture via Liquify
Liquify tak hanya digunakan untuk menyunting detail sebuah image, tapi juga memberikan efek pada saat coloring. Coloring menggunakan filter liquify memberikan efek likuid dan bentuk yang berbeda dari coloring brush atau paint bucket.


