
Mengintip “Desa Seniman” di Beijing
798 Art District
798 Art District di Beijing punya wajah berbeda sekitar empat dekade silam. Dulu, daerah yang kini dipadati kaum seniman China itu bukanlah sebuah “Desa Seniman”. Di tahun 1951, tak lama setelah Mao dan kekuatan komunisnya berhasil meredam gerakan Nasionalis di China, China dan dua raksasa komunis lain, yakni Uni Soviet dan Jerman Timur, bersepakat menguatkan posisi mereka di peta kekuasaan dunia dengan membangun daerah industri militer di situ. Baru di tahun 1995, ketika perang dingin telah mencair dan seni kembali mendapat tempat di hati masyarakat, CAFA (Central Academy of Fine Arts) mengusulkan tempat ini diubah menjadi semacam lokasi penampungan bagi para seniman lokal. Gayung bersambut. Lima tahun kemudian, harapan itu akhirnya terwujud.
Para seniman di China menyambut gembira keputusan ini. Mereka merasa diperhatikan karena mendapat semacam wadah untuk berkreasi. Selain itu, gedung-gedung yang ada di sana—meski hanya berlantai satu—memiliki tinggi hingga 9 meter sehingga memudahkan mereka ketika hendak menggelar workshop.
Kini, “Desa Seni” itu, 798 Art District, telah menjelma menjadi salah satu urat nadi kesenian yang paling berdenyut di daratan China. Di lahan seluas 1.000 meter persegi itu, ratusan seniman, baik lokal maupun internasional, berkumpul dan berkolaborasi untuk menciptakan beragam karya seni. Tak ketinggalan juga berbagai festival kesenian nasional dan internasional yang menyentuh wilayah urban art hingga contemporary art.
Rekonstruksi 798 Art District dari daerah industri militer menjadi pusat kesenian dilakukan dengan desain yang merangkum elemen masa silam, masa kini, dan masa depan. Gaya Bauhaus Jerman Timur yang dipadu unsur urban style, serta seni kontemporer dari para seniman lokal, menjalar kuat ketika orang melangkah masuk ke 798 Art District. Inilah tempat di mana para seniman muda mencari inspirasi dan berupaya unjuk gigi lewat karya-karya mereka di berbagai ajang internasional. Jika Anda mengaku pencinta seni dan kebetulan sedang berlibur di Beijing, mungkin ada baiknya menyempatkan diri bertandang ke “Desa Seni” ini. Sekadar menyaksikan geliat kreativitas talenta-talenta muda di China.
Sungguh patut diteladani, bahkan pemerintah komunis yang galak dan keras pun memberikan ruang bagi seniman untuk bernafas. (Visi Palapa, MWM)
Enclosed:
Photo courtesy of VP
Photo by bem_
Mimpi dan khayal terkadang memerlukan imajinasi yang tinggi. Imajinasi akan lahir dari sosok kreatif yang pemberani dan tak pernah ragu-ragu. Bebekal ide dan kebebasan imajinasi yang liar dalam berkarya, Agus Wijaya berhasil meraih penghargaan "The Most Creative Student" dan "The Best Student" dari Billy Blue College of Design. Simak karya-karyanya di majalah Concept edisi 24. (oa)
Pria ini lahir di Bandung, hijrah ke Jakarta, hingga akhirnya memutuskan untuk menetap di Bali. Ayip, pendiri Matamera Communications, memilih Bali sebagai tempat studi dan sumber inspirasi dalam berkarya. Tanggal 26 Desember lalu, Matamera Communications merayakan ulang tahunnya yang ke-17. Lahir dan besar di keluarga yang tidak terlalu menonjol dalam dunia seni bukan lantas berarti orang tersebut tidak berbakat menjadi seniman. Ayip buktinya. Silakan simak beberapa karya Ayip berikut ini. (gl)
The Creative Guerillas Duo
Miko “otom” Bawono dan Santi Ariestyowanti pertama kali bertemu di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Mereka kemudian membentuk sebuah tim yang mereka sebut “Indieguerillas”. Ketertarikan keduanya pada dunia seni sudah terlihat saat masih duduk di bangku TK. Waktu itu, Miko dan Santi kecil senang sekali mencoret-coret tembok rumah mereka. Karya pertama mereka di bawah panji Indieguerillas adalah ketika menggarap cover kaset Sheila on 7 di tahun 1999, dengan hanya bermodalkan nekat dan pengetahuan cetak yang masih relatif minim.
Dalam berkarya, Miko dan Santi banyak menuangkan rasa nasionalisme, kultur warisan nenek moyang, dan kecintaan mereka pada Indonesia. Baik dalam bentuk-bentuk yang masih tradisional maupun modern. (gl)
Love on (ar)t-shirt
Wadezig! adalah salah satu brand pakaian indie yang didirikan Ilman Hakim Landjanoen, Rizky Rahman dan Ridho Alhadi di tahun 2003. Awalnya, mereka tergila-gila dengan kaus. Mereka sering pergi ke Pasar Cimol di Jawa Barat dan Pasar Kodok di Bali demi berburu kass bekas. Mereka mendesain, memproduksi, dan memasarkan sendiri produk mereka karena percaya kaus adalah salah satu media paling efektif untuk propaganda. Orang-orang biasa mengenakan kaus berkali-kali, dan tag line atau slogan provokatif lewat kaus, sudah pasti bakal mencuri perhatian orang banyak. Kaus bagi mereka merupakan media efektif sebagai sarana tuang emosi dan ide-ide terobosan lewat aneka desain yang unik. Wadezig! - yang teguh bersandar pada pepatah latin “Ora et Labora” - juga tak keberatan jika banyak orang menjiplak dan menyebarluaskan kaus mereka. Kecintaan dan semangat akan seni dan kaus merupakan senjata pertahanan mereka yang telah konsisten berinovasi selama kurun lima tahun ini. (rh)