Please contact us at:
Gedung FORME
Jl. Wijaya I No.39
Kebayoran Baru
Jakarta 12170
P: +62 21 720 0 721
F: +62 21 720 3 433
e: concept@indosat.net.id

Kita tidak bisa memungkiri bahwa Benua Biru memang mempunyai pesona yang mampu menyihir. Mulai budaya hingga olahraganya, semuanya mampu menarik perhatian banyak orang. Sebagai negara yang pernah dijajah oleh bangsa Belanda selama kurang lebih 350 tahun, Indonesia merupakan negara dengan “rasa” Eropa yang kuat. Salah satu buktinya adalah bangunan-bangunan di daerah Kota Tua, Jakarta. Ataupun bangunan gedung di Kota Kembang, Bandung, yang sangat terasa nuansa art deco khas Eropa. Negara ini juga harus berterima kasih pada bangsa Eropa, terutama Belanda. Karena jika mereka tidak mendatangkan kereta dan membangun jaringan rel kereta, bisa dipastikan sistem transportasi Indonesia akan berjalan di tempat. Selain fesyen, musik, dan seni kontemporer, budaya-budaya urban lainnya juga sudah mulai memasuki kehidupan modern Indonesia saat ini.

Profesi fotografer bukanlah sebuah profesi yang asing dalam dunia kerja. Seribu satu macam fotografer dengan gayanya masing-masing bisa kita temui dengan mudah saat ini. Mulai dari fotografer khusus dokumentasi pernikahan, hingga fotografer kelas dunia yang sering mendapatkan penghargaan sekelas Pulitzer. Lalu bagaimana dengan fotografer surfing, yang sepertinya masih belum begitu terdengar gaungnya di dunia fotografi? Memang, jika kita melihat foto-foto surfing, foto-foto itu terkesan gampang untuk diambil. Hanya bermodal sebuah kamera DSLR dan sebuah momen yang tepat, maka jadilah foto yang bagus. Tapi pada kenyataannya ternyata tidak semudah itu, karena seorang surf photographer harus mempunyai passion yang kuat, baik dalam dunia surfing ataupun fotografi. Yang perlu diingat, profesi surf photographer adalah profesi yang segmented, dan tidak dapat diandalkan untuk mencetak uang.

Pria kelahiran 7 Desember 1963 ini merupakan commander in chief sekaligus salah satu founder Bike to Work (B2W). Prihatin dengan keadaan Jakarta, Toto dan teman-temannya yang gemar bersepeda tiap akhir pekan, mempunyai cita-cita untuk mengurangi polusi di Indonesia dengan bersepeda. Meskipun sempat dicap "orang gila" oleh banyak orang karena bersepeda ke tempat kerja, tetapi niat Toto dkk tidak pernah surut. Dari sinilah lahir komunitas B2W, yang kini anggotanya mencapai 40.000 penggowes di seluruh Indonesia.

Sosok Hanoman memang menjadi inspirasi bagi empat desainer grafis dan ilustrator Bima Nurin, Sweta Kartika, Habibie, dan Dian Efendi untuk mendirikan studio desain grafis yang kemudian diberikan nama Wanara. Nama “Wanara” sendiri dalam bahasa Sansekerta berarti “Manusia Hutan.” Sementara dalam masyarakat Jawa, wanara juga diartikan sebagai monyet atau kera. Nama “Wanara” diambil karena mengandung makna sebagai kelompok manusia yang senang bermain bersama, solider, suka bekerja sama, cerdas, liar atau bertingkah sesukanya, dan tidak suka dikekang Sebagai generasi muda yang mengagumi wayang, keempatnya merasa berkewajiban untuk menumbuhkan kekaguman yang sama terhadap wayang pada masyarakat melalui desain-desain yang mereka hasilkan. Terbukti banyak orang yang kemudian menjadi tertarik dengan kandungan filosofi dan keindahan visual dari wayang. Mereka yakin wayang adalah karya yang sangat potensial untuk menggugah kekaguman dan minat masyarakat Indonesia maupun luar negeri.

Gerakan Mod—diambil dari kata modern—sebenarnya berasal dari Inggris. Komunitas Mod lahir dari rasa muak kaum buruh yang selalu ditindas kalangan sosialis. Mod sejatinya merupakan sebuah ideologi yang berupaya mengangkat hak dan kewajiban buruh yang tidak berimbang di zaman revolusi industri. Sementara para kapitalis terkesan asyik ongkang-ongkang di rumah mewah mereka, para buruh membanting tulang dengan upah kecil. Berangkat dari kenyataan ini, ideologi Mod pun akhirnya dianut kelompok kerah biru London sebagai bentuk protes mereka terhadap sikap kaum kapitalis yang semena-mena.
Sejatinya, kemasan cokelat mempunyai fungsi yang sama dengan kemasan-kemasan makanan atau minuman yang lain: melindungi isi dalamnya. Tidak heran jika kemasan-kemasan tadi rela pasang badan untuk melindungi segala sesuatu yang berada di dalam kemasan. Selain memberikan proteksi menyeluruh, kemasan juga harus mudah untuk dibuka—Anda pasti tidak ingin memakan cokelat yang membutuhkan waktu 30 menit untuk membuka bungkusnya saja. Setelah melindungi dan mudah untuk dibuka, lalu apa? Estetika, ya kini cokelat pun dapat tampil trendi dengan bermacam-macam “baju”, tidak lagi tampil seragam seperti di awal-awal munculnya cokelat.

Netral, itulah alasan yang menjadikan Swiss sebagai produsen top jam tangan dunia. Sejarah pembuatan jam tangan di Swiss sendiri bermula sekitar tahun 1541. Saat itu, banyak pengrajin perhiasan yang beralih profesi menjadi pembuat arloji. Negara yang terkenal dengan Pegunungan Alpennya ini ketiban pulung ketika era Perang Dunia I. Saat itu, mereka kebanjiran order untuk membuat jam tangan bagi para militer karena pabrik-pabrik jam di negara pesaing mereka—Rusia, Jerman, Amerika—porak-poranda diserbu musuh. Sedangkan Swiss, yang merupakan negara netral, masih memiliki banyak produsen jam tangan. Alasan inilah yang menahbiskan Swiss sebagai produsen arloji kakap di dunia. Sedikit mundur ke tahun-tahun sebelumnya, di awal kemunculannya, arloji dianggap hanya cocok digunakan oleh kaum hawa—karena pada masa itu laki-laki menggunakan pocket watch atau jam saku—hingga muncul sindiran pada zaman itu, bahwa laki-laki yang mengenakan jam tangan lambat laun akan mengenakan rok.